Embracing Daily Life
Menjadi seorang ibu adalah hal yang memang aku impikan semenjak aku memasuki usia dewasa. Kenapa? Karena aku suka banget sama anak kecil. Menurutku periode usia dini sampai dengan remaja adalah fase asli seorang manusia, dimana karakternya masih sangat dekat dengan fitrah (sifat asli dan sempurna dari seorang manusia yang diciptakan oleh Allah). Dimana pada fase ini juga ia sedang menjalani proses mencerap dan memproses kondisi di sekitarnya, sebelum masuk kedalam fase usia dimana ia sudah lebih siap untuk menghadapi kehidupan dengan segala ujian yang Allah takdirkan untuknya.
Melalui point of view ini, janjiku kepada Allah didalam doa-doaku adalah aku akan merawat dan membesarkan anak-anakku dengan sebaik mungkin jika kelak Allah karuniakan aku dengan buah hati.
Satu tahun setelah menikah Allah ijabah doaku dengan hadirnya kehidupan baru pertama di hidupku. Yaitu Aqeela Mukhbita Azzahra. Dan 8 tahun kemudian Basyir Muhammad Tsaqif Arouri hadir melengkapi kebahagiaanku. Mereka berdua adalah ijabah Allah atas doa dan penantianku selama ini. Sekaligus karunia Allah yang terindah. Menit demi menit yang aku lalui bersama mereka adalah implementasi rasa syukurku kepada Allah.
Eitts bukan berarti setiap hari nya smooth sempurna tanpa cacat lho ya. Tentu saja ada moment-moment dimana hari-hari tidak sesuai ekspektasi. Terutama ketika mereka berdua sedang berperan sebagai fasilitator penguji kesabaran.🥲 Yaitu suatu waktu ketika mereka menuntut secara bersama-sama sesuatu yang sedikit mustahil dilakukan di saat workload sedang tinggi-tingginya dan di waktu yg sama simpanan energi fisik serta kapasitas emosi hanya tinggal tersisa sedikit…
Sebuah momentum dimana rasanya mirip seperti bagian dari sebuah scene dari film dokumentasi tentang detik-detik gunung berapi yang sedang akan memuntahkan lavanya..
Walaupun begitu, overall keseharianku dengan anak-anakku adalah kebahagiaan yang memang sudah lama aku impikan. Sebuah tolok ukur sikap yg membuatku selalu berusaha memberikan yang terbaik sesuai kemampuanku untuk mereka.
“Setiap pergantian hari, adalah sebuah paket tantangan baru sekaligus hadiah dari Allah azza wa jalla.”
Aku termasuk salah satu orang yang menganut prinsip: Setiap pergantian hari, adalah sebuah paket tantangan baru sekaligus hadiah dari Allah. Dipastikan jika aku tidak terus mengingatkan diri sendiri tentang prinsip tersebut, bisa jadi aku akan lalai dari rasa syukur yang ingin aku terus pelihara. Alhamdulillah output dari konsisten mengingatkan diri sendiri ini adalah aku bisa memilih sikap dan mindset yang relevan dan insyaa Allah sejalan dengan syariat serta bisa memelihara husnudzon kepada Allah.
Hal ini juga membuat kegiatan seperti memasak makanan favorit anak-anak, membersamai mereka ketika belajar, menemani mereka saat bermain, menjadi pesan lembut untuk Allah tentang rasa syukurku. Trust me, ngga ada yang sempurna. Setiap rumah tangga pasti memiliki ujiannya masing-masing. Tantangan saat ini ada pada menyeimbangkan waktu untuk pekerjaan rumah tangga, pekerjaan paruh waktu yang sedang aku rintis, waktu untuk membersamai mereka, dengan menjalani waktu pribadi untuk diri sendiri.
Tenang, aku tidak sedang mengajari bagaimana menjadi seorang orangtua yang baik. Karena aku yakin kalian para pembaca tulisanku ini jauh lebih baik dariku.
Hanya ingin berbagi sedikit tentang bagaimana aku menjalani peranku sebagai orangtua tanpa bermaksud menggurui.
Jika paragaraf sebelumnya menjelaskan tentang bagaimana rasa syukurku ketika membesarkan kedua buah hatiku, maka situasi dan kondisi diluar yang tidak kita kendalikan bisa jadi tidak selalu kondusif dan ideal. Dalam bentuk pikiran sedang memikirkan hal-hal yang belum namun harus segera dilakukan, atau perasaan yang sedang tidak nyaman akibat kondisi atau stimulasi dari luar, fisik yang tidak fit, dan lain sebagainya dengan tingkatan yang beragam mulai dari yang ringan hingga berat.
Hal yang selalu aku camkan kedalam diriku adalah: “Selesaikan perasaan tidak nyaman ini, sehingga anak-anak hanya tahu hal-hal yang membuat mereka nyaman dan penuh didalam menjalani aktifitasnya.” Tentu saja ini tidak selalu mudah, kunci rahasianya adalah untuk tidak mengandalkan diri sendiri didalam melakukannya. Alias untuk selalu meminta pertolongan Allah yang Maha Lembut dan Maha Kuat. Dan ini efektif hingga akhirnya tujuanku dalam membersamai aktifitas anak-anak dalam kondisi jiwa yang kondusif bisa terealisasi. Alhamdulillah.
Hal lainnya yaitu dengan tidak lupa melakukan Self-Care di sela-sela rutinitas.
Menyediakan waktu untuk Self-Care
Self-Care untuk tiap orang bisa berbeda. Self-Care paling basic bagiku adalah dengan melakukan refleksi diri tepat setelah selesai mengucapkan salam di waktu-waktu Shalatku. Mengingat kembali hal-hal pemberian Allah yang masih bisa aku syukuri, merencanakan aksi-aksi positif terkait dengan rasa syukur tersebut, dan seterusnya dan semisalnya. Self-Care lainnya aku lakukan dalam kegiatan olahraga, berinteraksi dengan keluarga & teman, dan tidak lupa dengan minum teh sambil memakan cemilan favorit. Hal-hal kecil tapi cukup efektif bagiku untuk merelaksasi jiwa sebelum bersiap melakukan rutinitas selanjutnya. Insyaa Allah aku akan bahas topik Self Care ini lebih jauh di tulisan selanjutnya.
Btw, efek Self-Care itu nyata adanya lho. Dan inilah efek yang terjadi pada diriku disaat setelah melakukan Self-Care…… seperti:
- Bersabar ketika menemukan anak menumpahkan makanan di atas kasur dengan sprei bersih yang baru saja dipasang, atau ketika melihat anak mencoret-coret dinding mulus dengan krayon atau cat akriliknya.
- Bertahan ketika tekanan emosi datang dari depan-kanan-kiri-belakang padahal sudah dan sedang berbuat baik sebaik mungkin.
- Bisa fokus dan tetap relevan plus telaten walau tuntutan datang di waktu yang sama secara serempak.
- Dan lain sebagainya.
Efeknya jauh berbeda ketika tidak melakukan Self-Care. Dimana emosi mungkin tidak bisa terlalu kondusif. 😀
Kembali lagi, dan juga sebagai pengingat untuk diri sendiri, setiap hari adalah sebuah paket tantangan baru sekaligus hadiah dari Allah. Semoga kita semua dimudahkan dalam memacu diri untuk konsisten didalam melakukan kebaikan dan kebermanfaatan di setiap harinya dengan izin Allah Subhaanahu wata’ala tentunya ya. Aamin.
Semangat!
Salam, Tami.
