Disclaimer, statement ini bukan statement motivasional dari sudut pandang motivator. Bukan juga sebuah rumus akuntansi untuk diterapkan pada bisnis kita. Statement ini hanyalah sudut pandang seorang manusia biasa yang juga terus berusaha istiqomah didalam merangkai asa, di tengah hiruk pikuk dan ketidak-sempurnaan dunia. Sebuah mindset yang sengaja dipilih dan ditumbuhkan didalam perjalanan hidup, diantara gambaran kondisi ideal, tujuan akhir, ujian, dan setiap fase yang harus dilalui setiap manusia.
“Hidup itu hanya tentang beruntung atau beruntung banget. Bukan berarti hidup kita selalu berjalan sesuai harapan dan keinginan. Bukan juga klaim bahwa hidup kita akan terus berada dalam kondisi ideal dan semua hal baik maupun buruk harus terasa baik.“
Hidup itu hanya tentang beruntung atau beruntung banget. Bukan berarti hidup kita selalu berjalan sesuai harapan dan keinginan. Bukan juga sebuah klaim bahwa hidup kita akan terus berada dalam kondisi ideal dan semua hal baik maupun buruk harus dirasa baik. Bukan juga tentang apa-apa yang pasti selalu bisa kita dapatkan, dan apa-apa saja yang belum bisa dan harus bisa kita dapatkan.
Tetapi tentang pilihan mindset untuk percaya bahwa apa pun yang Allah izinkan terjadi dan yang menjadi kondisi hidup kita saat ini, suka tidak suka, mau tidak mau, adalah hal terbaik yang Allah izinkan terjadi untuk diri kita.
Btw bagi yang muslim pernah dengar firman Allah dalam Quran Surat Ibrahim ayat 7 khan? Yang berbunyi: وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ yang artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat keras.” Artinya kalau kita enggan bersyukur, nikmat kita ditambah atau engga? hehe. Nah, mindset: Hidup ini hanya tentang beruntung atau beruntung banget ini memudahkan kita untuk memposisikan diri bukan hanya untuk membuat kita lebih banyak mengucap syukur kepada Allah, tetapi juga membantu untuk bisa dan istiqomah berhusnudzon kepada Allah pencipta alam semesta atas takdirNya, karena setelah kita bersyukur ternyata Allah tambah nikmat kita. Korelatif?
Korelasi lebih jauhnya, melalui mindset ini, kita yakin bahwa kita sedang menjalani fase kehidupan dengan sebaik-baiknya sembari yakin bahwa janji Allah akan mendapat akhir yang baik, menjadi lebih mudah. Sehingga bukan saja output dari mindset ini baik untuk diri kita, orang di sekitar kita, dan lingkungan, namun juga munculnya keyakinan bahwa Allah akan memberikan nilai terbaik untuk diri dan peran terbaik yang kita pilih atas takdirNYA.
Dengan berangkat melalui mindset ini juga, diri kita menjadi lebih mudah berprasangka baik kepada Allah. Sehingga hal-hal seperti apa yang di mata orang lain dilihat sebagai sebuah kesulitan atau kekurangan, bisa jadi kita melihatnya sebagai sebuah kebaikan. Dan yang terpenting kita bisa menjalaninya sebagaimana air yang muncul dari sebuah mata air menuju ke laut, Air selalu mengalir dan terus bisa menemukan jalan yang sesuai dengan sifat dan hakekatnya, meski bertemu dengan berbagai rintangan dan hambatan didalam perjalanannya.
Makna lainnya adalah apa yang kita prasangkakan sebagai sebuah kesulitan besar saat ini, ternyata bisa jadi adalah sebuah jalan menuju pintu kemudahan yang besar dari Allah. Ingat, matematika Allah tidak sama dengan matematika kita manusia ciptaanNya. Kewajiban kita adalah untuk berhusnudzon kepada Nya, bukan untuk mengkomplain apa-apa yang telah Allah takdirkan untuk kita.
“Keberuntungan bukan hanya tentang apa yang kita dapat, tetapi tentang bagaimana kita memaknai apa yang sedang atau telah terjadi.”
Hidup ini hanya tentang beruntung atau beruntung banget. Berarti bahwa kita tidak menolak adanya kebaikan-kebaikan dalam bentuk apapun dan dalam ukuran apapun yang muncul pada hidup kita, walau kita sedang ditimpa kesulitan baik dalam takaran kecil maupun besar sekalipun. Sehingga alih-alih memfokuskan pikiran pada hal-hal yang belum sesuai dengan harapan, kita memilih untuk bekerja dengan baik pada hal-hal yang mendekatkan diri kita pada kondisi ideal yang sesuai harapan, atau minimal memudahkan kita untuk me-repositioning mindset kita kembali pada kebaikan.
Meletakkan keyakinan bahwa pasti ada kebaikan, atau pasti Allah yang Maha Adil sedang mempekerjakan takdir terbaik di balik setiap kesulitan yang kita alami, sesuai dengan prasangka baik yang kita pegang akan sangat memudahkan kita untuk kembali pada hakekat hidup yang dituliskan Allah dalam Q.S. Ibrahim ayat 7 tadi. Oke, sebenarnya aku mau kasih contoh orang-orang yang berhasil meletakkan keyakinan ini didalam kehidupan mereka walau mereka ditimpa kesulitan, ujian, dan calamity mulai dari tingkat ringan sampai tingkat yang berat. Tapi aku takut tulisan ini menjadi terlalu berat. Karena aku ingin tulisan ini bernuansa ringan, menginspirasi, dan menyenangkan. Kalau mau baca tulisanku yang terkait tentang mindset beruntung atau beruntung banget ini, bisa cek disini ya ->
Last but not least, implementasi mindset beruntung atau beruntung banget ini bisa membawa kita pada kondisi:
- Berhenti melihat diri sebagai korban atau orang yang “terkena keadaan”. Ingat kiita tidak bisa memilih seluruh kejadian yang terjadi pada hidup kita, tetapi kita bisa memilih respons kita.
- Suatu hal bisa terlihat buruk dari sudut pandang kita karena kita hanya manusia biasa yang lemah dan keterbatasan kita hanya bisa melihat satu potongan kecil dari gambar besar yang Allah telah susun didalam sebuah masterplan ciptaanNya di Lauhul Mahfudz. Pengetahuan kita terlalu sempit untuk memastikan apa saja yang sedang Allah arahkan, jauhkan, ajarkan, atau persiapkan untuk kita.
- Ujian bukan hanya dilihat dari “apa yang kurang” atau “apa yang hilang” tetapi juga “apa yang sedang dibentuk Allah didalam diri saya?”, “siapa yang mungkin terbantukan oleh sebab kejadian ini?”, dan “kebaikan apa yang bisa saya lanjutkan didalam hari-demi hari kehidupan saya setelah kejadian ini?”
- Sikap yakin tentang sifat Maha Baik Allah bukan berarti kita menyangkal perasaan sedih, kemarahan, dan perasaan kecewa. Bukan juga berarti kita senantiasa hidup bahagia tanpa susah dan masalah. Setiap perasaan adalah kewajaran yang sangat bisa dan sangat boleh terjadi dan dirasakan setiap dari kita. Tapi pilihan mindset untuk kembali menemukan alasan didalam mencintai Allah azza wa jalla, meyakini kebaikanNya, dan kembali bersyukur kepadaNYa adalah penting, terlepas dari perasaan apapun yang muncul, efek dari terjadinya fase kehidupan yang tidak berjalan sesuai harapan.
Mungkin kita tidak akan pernah memahami seluruh alasan di balik setiap kejadian yang terjadi pada hidup kita. Tetapi kita bisa memilih untuk percaya bahwa ada kebaikan yang hanya belum kita lihat saja. Maka, daripada bertanya “mengapa ini terjadi kepadaku?”, mungkin kita bisa mulai bertanya, “kebaikan apa yang bisa lahir dari situasi ini?” Sehingga ujungnya akan lahir rasa syukur kepada Allah dan rasa yakin bahwa ternyata hidup kita ini hanyalah tentang beruntung atau beruntung banget.
Salam,
Tami.
